Tampilkan postingan dengan label Sahabat Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Dakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Oktober 2014

Tarbiyah Islamiyah Harakah






Paket tarbiyah Islamiyah adalah bahan yang menjelaskan pentingnya tarbiyah dan tujuan tarbiyah yang sebenarnya. Setelah mengetahui proses takwinul ummah dan bagaimana ikatan ukhuwah sebagai kekuatan terbentuknya ummat, maka bahan tarbiyah ini sebagai ini sebagai realisasi takwinul ummah itu sendiri. Dalam bahan ini akan sedikit menjelaskan bagaimana tarbiyah itu berkesan sehingga dapat dilaksanakan dengan baik.

            Kalimat tarbiyah akhir-akhir merupakan kalimat yang umum dan biasa disebut di setiap tempat. Tidak ada orang yang tidak mengenal tarbiyah. Istilah tarbiyah dapat diartikan secara umum, baik bersifat pendidikan di sekolah umum atau sekolah agama, maupun segala program Islam yang dilaksanakan di masjid, LSM, organisasi, dan lain sebagainya. Tarbiyah erat maknanya dengan usrah, membaca buku dan mengikuti berbagai aktivitas Islam seperti ceramah, seminar, tadzkirah, dan sebagainya. Pengertian tersebut semuanya semuanya benar mengikuti pemahaman masing-masing. Namun demikian bahan tarbiyah ini erat maknanya dengan takwin (pembentukan), yang berarti pembinaan pribadi muslim dan pribadi da’I sehingga timbul kesadaran Islam yang syumul dan benar.

            Beban tarbiyah Islamiyah ini dimulai dengan pengenalan jahiliyah yang mempunyai ciri-ciri bodoh, hina, lemah, miskin, dan berpecah belah, sehingga keadaan ini merupakan kesesatan yang nyata. Keadaan jahiliyah yang demikian ada ketika sebelum datangnya Rosul Muhammad SAW dan keadaan jahiliyah ini mungkin juga muncul pada keadaan sekarang ini, minimal dari segi ciri dan keadaan dalam masyarakat kita bahkan di sebagian ummat Islam. Keadaan ini perlu diselamatkan dengan tarbiyah Islamiyah. Kedatangan Rosul membawa dan memberikan tarbiyah kepada ummat Islam. Tarbiyah yang disebutkan Al Qur’an mempunyai tiga marhalah yaitu tilawah, tazkiyah, dan mengajarkan kitab. Tarbiyah robbani tersebut harus merujuk kepada Al Qur’an sehingga sesuai dengan sunnahnya bahwa Al Qur’an turun ke dalam hati manusia. Tarbiyah yang utama adalah melalui pendekatan Al Qur’an karena akan memudahkan hati mendapatkan hidayah dan merubah pribadi dari jahiliyah kepada Islam. Keuntungan dari tarbiyah ini adalah pribadi muslim yang ditarbiyah akan dapat mengoptimalkan potensinya dan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan dunia dan akhirat. Pendekatan tarbiyah ini akan mencapai matlamat dan hasil yang dikehendaki.

            Tarbiyah yang berkesan juga perlu dilengkapi dengan berbagai uslub dan wasilah sehingga dapat mencapai matlamat yang dikehendaki. Metode takwiniyah memperhatikan kebutuhan mad’u, cara penyampaian bahan agar dapat diterima mad’u, juga sasaran yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh da’i pelaku dakwah. Pendekatan tarbiyah dalam mengikuti Rosul mentarbiyah sahabat perlu digali, diambil, dan diamalkan mengikuti perkembangan situasi dan kondisi setempat.

            Permasalahan tarbiyah yang kurang berkesan disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung, pribadi da’i yang tidak mempunyai kecenderungan sebagai murabbi, pemahaman tarbiyah yang kurang tepat, murabbi yang tidak dibesarkan oleh tarbiyah, mad’u yang tidak berpotensi untuk berubah dan mad’u yang banyak hambatan seperti kepribadian, pemikiran, tingkah laku dan sebagainya.

            Untuk lebih memahami pelaksanaan tarbiyah dengan baik, maka perlu mengenal sasaran tarbiyah. Diantara sasaran tarbiyah adalah mendapatkan tasawur yang jelas mengenai Islam secara benar dan sempurna, memunculkan rasa ‘izzah, dan membentuk kepribadian Islam, memunculkan harakah sehingga menghasilkan, mewujudkan masuliyah di atas landasan syar’i, tanzim, dan  membangun kafaah dakwah, ta’lim, dan fanniyah. Dilihat dari tujuan ini maka tarbiyah tidak saja memberikan pengajian agar muncul pengetahuan Islam tetapi tarbiyah juga membentuk pribadi muslim yang mempunyai akidah dan akhlak, mamiliki ‘izzah  Islam, bergerak dalam harakah Islamiyah, membentuk pribadi da’i, membina pribadi yang bertanggung jawab dan membangun potensi, sehingga dengan potensi dan pribadi yang ditarbiyah ini dapat digunakan untuk kepentingan ummat dan jama’ah dalam menegakkan syariat Islam.Syariat Islam yang ditegakkan oleh kader-kader yang ditarbiyah ini dan kader-kader yang sudah memasuki dakwah ke lapisan masyarakat dengan menggunakan kepakaran, keahlian, posisi, keberadaan, pengaruh, dan sebagainya. Tarbiyah bukan segala-galanya, tetapi tarbiyah dapat membentuk pribadi muslim dan juga memelihara keislaman yang dimiliki sehingga dapat menyokong program-program harakah.


Selasa, 21 Oktober 2014

Sabar Dan Tsabat Dalam Menghadapi Rintangan Dakwah



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita dapati kejadian yang membutuhkan kesabaran. Sebab, hidup itu sendiri, memang, merupakan perjuangan yang tidak lepas dari segala macam tantangan. Dan sikap yang terbaik untuk menghadapinya adalah bersabar dan tidak gegabah.

Sabar atau tsabat timbul karena adanya tantangan. Sejauh seseorang dapat bersabar, sejauh itu pula ia berhasil menghadapi suatu tantangan. Dengan kata lain,  kesabaran adalah buah kemenangan yang dicapai oleh seseorang dalam bertempur menghadapi tantangan. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, bahwa orang yang kuat adalah orang yang dapat menundukkan dirinya ketika ia hendak marah, mampu bersabar mengekang hawa nafsunya.

Manusia yang diciptakan Allah SWT di muka bumi ini sejak dari  Nabi Adam AS telah dipertemukan oleh Allah dengan pokok tantangan yaitu syaitan, yang juga sebagai musuh utama manusia. Hal demikian dimaksudkan oleh Allah untuk memilih dari seluruh menusia yang diciptakan-Nya, manusia-manusia yang akan menjadi khalifah-Nya di muka bumi.

Tugas khalifah, tugas untuk memimpin dan mengatur dunia, inilah yang dibebankan oleh Allah SWT kepada manusia. Karena tugas khalifah di muka bumi ini merupakan tugas yang berat dan besar maka Allah SWT menghendaki khalifah-Nya yang mengemban tugas tersebut adalah mereka yang mampu menghadapi tantangan-tantangannya dan mampu bertahan, sabar, dan tetap berpegang teguh pada tali-tali ajaran-Nya.

Sabar adalah kekhususan manusia.
Telah disebut di muka bahwa sabar atau tsabat timbul karena adanya tantangan. Dan timbulnya tantangan karena adanya suatu kekuatan dan kehendak yang kebanyakan saling berbeda. Maka, suatu hal yang janggal apabila dikatakan bahwa seekor lalat sangat sabar, atau seekor kerbau sangat tabah dan sabar tatkala datang musim kering sehingga tidak ada suatu rumput pun yang tumbuh, umpamanya.

Yang demikian itu karena lalat dan kerbau itu mempunyai banyak kekurangan. Keduanya tidak mempunyai akal untuk berfikir dan memberikan pertimbangan-pertimbangan mengatakan kelaparan. Segala yang mereka perbuat hanya berdasarkan syahwat hayawaniyah dan karena insting semata.

Juga suatu hal yang sulit diterima, apabila dikatakan bahwa para malaikat itu sabar dan tabah. Sebab, para malaikat diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang selalu taat dan patuh manjalankan perintah-perintah-Nya dan tidak pernah berbuat maksiat sekalipun.

Para malaikat tersebut tidak dikuasai oleh syahwatnya yang akan membelokkannya dari kepatuhan dan taatnya kepada Allah SWT sehingga terjadi pergolakan dalam diri para malaikat. Atau, menimbulkan adanya tantangan bagi para malaikat dan menuntut untuk bersabar menghadapinya. Tidak demikian halnya karena yang ada pada para malaikat tersebut hanyalah satu hal, yaitu kepatuhan dan tidak maksiat.

Dengan demikian, maka kesabaran ini menjadi kekhususan bagi manusia saja. Sebab, dalam diri manusia selalu terjadi dua hal yang saling bertolak belakang. Manusia telah dibekali dengan setumpuk petunjuk Allah untuk menghadapi segala macam tantangan, mulai dari petunjuk instink, panca indera, akal, sampai kepada agama--petunjuk yang paling sempurna. Tetapi, Allah tidak membiarkan manusia begitu saja menggunakan petunjuk-petunjuk-Nya tadi. Allah SWT masih akan mengujinya dengan berbagai macam bentuk ujian.

Allah berfirman, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “kami telah beriman “ sedang mereka tidak diuji lagi, dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang belum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.”

Syaitan sebagai musuh bebuyutan manusia selalu menggodanya melalui nafsunya, akalnya, bahkan agamanya sekalipun. Di sinilah terjadinya tantangan dan pergolakan dalam diri manusia. Hanya manusia-manusia yang tetap tegak, tsabat dan istiqamah dalam garis-garis Allah SWT yang akan memperoleh kemenangan.

 Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah contoh konkret.
Pada dasarnya risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya adalah sesuai dengan fitrah manusia. Hal demikian menghendaki risalah yang dibebani oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, akan diterima dengan mudah oleh umat manusia. Memang demikianlah halnya bagi orang-orang yang suci hatinya. Bersih dari penyakit kekufuran, kedengkian dan kebancian.

Dengan segala lapang dada mereka menerima risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Hal ini bisa dilihat pada orang-orang terdekatnya, Khodijah binti Khuwailid, Abu Bakar Shiddiq, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan lainnya. Tetapi, sunnatullah dalam berdakwah, menyiarkan kebenaran, menunjukan kenyataan lain.

Ketikan Rasulullah mulai bergerak menyiarkan dakwahnya secara terang-terangan di bukit Shofa, justru tantangan pertama kali datang dari paman beliau, Abu Jahal yang mengatakan kepada Rasulullah: “Celakalah engkau wahai Muhammad, hanya untuk inikah kiranya engkau mengumpulkan kami.”

Tantangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW tidak berhenti sampai disitu. Orang-orang Quraisy mengingkari dakwah Rasulullah SAW dengan dalih bahwa mereka tidak bisa meninggalkan agama warisan nenek moyang mereka yang telah mendarah daging. Semakin lama Rasulullah SAW menyiarkan risalahnya dan semakin tampak cahaya benderang, semakin gencar pula tantangan yang dihadapinya. Para sahabat beliau pun tidak luput dari gangguan orang musyrikin Quraisy.

Satu contoh ketabahan dan tsabat, dapat kita temui pada Rasulullah SAW. Pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan di sebuah lorong kota Mekkah. Datanglah ejekan, bahkan penghinaan dari beberapa orang.

Mereka menaburkan pasir di atas kepala Rasulullah SAW. Beliau meneruskan perjalanan sampai kembali ke rumahnya dan kepala Rasulullah SAW masih kotor dengan pasir. Melihat demikian, salah seorang putri Rasulullah beranjak hendak membersihkan pasir tersebut sambil menangis. Dengan penuh ketabahan Rasulullah SAW berkata kepada putrinya,
 “Wahai putriku, janganlah engkau menangis, karena sesungguhnya Allah yang akan melindungi bapakmu.”

 Disamping Rasulullah sabar menghadapi segala cobaan ujian dan penganiyaan, beliau juga tetap tsabat, terus menekuni tugas sucinya (menyampaikan risalah) dengan berbagai macam usaha. Berdakwah siang dan malam, baik secara sembunyi dan terang-terangan, mendatangi para kaum ke tempat-temapat perkumpulan mereka.

Pada setiap musim haji Rasulullah SAW secara aktif menyampaikan kegiatan dakwahnya, menyampaikan kalimat Allah SWT yang haq kepada setiap orang yag ditemuinya, besar-kecil, kaya-miskin, hamba sahaya dan orang merdeka, mengajak mereka untuk menjadi pembela ajarannya, dan bagi mereka yang mau mengikuti Rasulullah SAW dijanjikan belasan syurga

Setiap Rasulullah SAW berhadapan dengan tantangan dakwah, beliau selalu menunjukkan sikapnya yang tetap tabah dan tsabat. Orang-orang Quraisy telah melakukan segala cara menghalangi dakwah Rasulullah SAW, tetapi semuanya tidak menunjukan hasil yang mereka inginkan, semuanya berakhir dengan sia-sia. Suatu ketika mereka hendak membujuk Rasulullah SAW  datang kepada paman beliau, Abu Thalib. Mereka  meminta tolong agar Abu Thalib bisa mempengaruhi Rasulullah SAW untuk meninggalkan dakwahnya. Rasulullah SAW menjawab dengan tegas.

Ketegaran dan ketabahan Rasulullah SAW dalam menghadapi segala tantangan dakwah ini, tercermin pula pada diri para sahabatnya. Bilal bin Rabah, diterlentangkan di bawah terik sinar matahari dan perutnya ditimbun dengan batu yang besar, dipaksa disuruh menyembah Latta dan Uzza dan meninggalkan ajaran Muhammad. Bilal menolak, dan tetap mengatakan, ”ahad, ahad” isyarat bahwa ia enggan menyembah, kecuali Tuhan yang satu/tunggal.

Ammar bin Yasir dan keluarganya disiksa kaum musyrikin di tengah padang pasir yang sangat panas. Ketika Rasulullah SAW mendapati mereka, beliau berkata, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir.” Samiyyah yang dibunuh oleh Abu Jahal karena menolak segala permintaannya, kecuali satu, yaitu Islam.

Sebenarnya, para musuh dakwah tersebut tidak mengingkari akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi, karena adanya rasa dengki dan  hasad dalam hati mereka dengan segala cara berusaha menghalangi perjalanan dakwah beliau.

Sabar dan tsabat mutlak diperlukan dalam dakwah.
Kehidupan dunia yang sangat kompleks dan sarat dengan berbagi ragam keadaan, membuat manusia tidak pernah sepi dari kemungkinan adanya bencana yang akan menimpanya. Berapa banyak manusia yang kandas cita-citanya, terserang penyakit, kehilangan harta, dan seterusnya. Ini merupakan sunnatullah di dunia yang penuh keanekaragaman

Kalaulah sunnatullah dalam kehidupan dunia dan pada diri manusia menghendaki demikian. Maka para pengemban dakwah akan lebih besar kemungkinannya untuk tertimpa kesusahan. Mereka adalah orang-orang yang mengajak kepada ajaran Allah SWT. Dalam waktu yang sama mereka akan mendapatakan perlawanan dari kaum thaghut.

Mereka mengajak kepada kebenaran, maka musuhnya adalah orang-orang yang mengajak berbuat batil. Ketika mereka menyuruh kepada hal-hal yag ma’ruf, mereka akan berhadapan dengan penyeru kemungkaran. Sunnatullah menghendaki terciptanya Adam dengan Iblis, Nabi Ibrahim dan raja Namrud, Musa dan Fir’aun, Muhammad SAW dan Abu Jahal. Allah menegaskan dalam firmannya, 

وَكَذَ‌ٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُون
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia, dan dari jenis jin, sebagai mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah untuk menipu.” (Q.S.Al-An’am: 112)

Begitulah keadaan para nabi, para pewarisnya, dan siapa saja yang berdakwah di jalan-Nya. Namun, orang-orang mukmin yang yakin dan mengetahui umurnya di dunia sangat pendek, yang menyadari sunnatullah pada para rasul dan nabi serta para pengemban dakwah yang mengikuti jalan-Nya, merekalah orang-orang yang akan sabar menghadapi cobaan, tabah menerima ujian. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Mereka yakin sepenuhnya bahwa segala apa yang menimpanya adalah sesuai dengan kadar yang telah tercatat. Segala cobaan yang menimpanya mereka pandang sebagai pelajaran yang berharga, pendidikan yang akan membuat jiwa dan keimanan semakin matang Walhasil, ketika mereka baru keluar dari penjara, umpamanya, bagaikan emas yang baru disepuh.

Maka hendaknya demikianlah halnya para pengemban dakwah, tidak akan pernah putus asa dan kehilangan harapan. Di dalam dirinya tertanam akidah yang kuat dan sejuta simpanan sebagai bekal dakwah dan senjata untuk menghadapi pergolakan hidup yang penuh tantangan. Wallahu a’lam bishshawab.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Penyakit Lisan Terburuk dan Tercela:


Ghibah dan Namimah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Tiada yang berhak memiliki pujian di alam semesta ini selain Allah Robb, Penguasa dan Pemilik otoritas di alam semesta ini. Kita haturkan shalawat dan salam kepada Rasul Pembawa rahmat, yang telah menunaikan tugas risalah, melaksanakan amanat kerasulan membawa umat manusia ke gerbang kebahagiaan.
Ikhwah yang dicintai dan disayang Allah…
*      Relakah kalau Antum jadi sasaran celaan orang lain?
*      Maukah Antum kalau kakak atau adik kandung Antum menjadi buah bibir masyarakat terhadap kekeliruan yang dilakukannya?
*      Ridhakah Antum kalau ada orang membuka aib (cela) diri Antum di depan orang banyak?
*      Kalau Antum tidak suka itu semua, semua orang pun tidak menyukainya, iya bukan???
Karena itulah, Allah swt Yang Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya yang setia beriman, memperingatkan sejak awal akan bahaya ghibah (menggunjing), membuka aib seseorang. Peringatan Allah diungkapkan dengan bahasa komunikasi yang sangat efektif, dengan cara memberikan perumpamaan orang yang menggunjing saudaranya seperti menyantap daging segar saudaranya yang sudah menjadi mayit itu. Artinya kalau memakan daging mayit tidak disukai, maka mengapa orang suka membicarakan keburukan dan aib saudaranya yang jauh dari pengetahuannya.

Akhi fillah …….
Apa maksud Allah swt memulai ayat larangan ghibah dengan seruan kepada orang beriman? Apa artinya Allah mengaitkan perbuatan tercela itu dengan keimanan? Yaa ayyulladziina aamanuu (wahai orang-orang beriman…). Demikian Allah sangat sayang dan penih mahabbah menyeru, mengingatkan dan mentaujih kita orang beriman. Karena Iman dan sifat tercela itu tidak akan mungkin bersatu, ibarat air dengan minyak, tidak logis muslim apalagi dai mendekati sesuatu yang dicela Allah swt dan rasul-Nya.
كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه (رواه مسلم)
Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram, darahnya, hartanya dan kehormatan dirinya (H.R. Muslim).

Ikhwatul Ahibbah ……
-semoga Allah mempererat ukhuwah kita-.
Karena ghibah merupakan larangan Allah, rambu-rambu pergaulan dengan sesama, lebih jauh lagi ia merupakan arahan Ilahi bagi orang beriman agar menjauhi sifat tercela itu, maka pelanggaran terhadap larangan dan peringatan itupun berakibat kepada kenistaan pelakunya. Dengarkan kisah perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah saw yang sempat diperlihatkan beberapa pemandangan yang mengerikan, untuk lebih meyakinkan diri dan umatnya terhadap kejadian yang menimpa itu, “Pada malam perjalanan Isra Mi’raj, aku diperlihatkan orang-orang yang mencakar-cakar mukanya dengan kuku-kuku tajam mereka, aku bertanya: Wahai Jibril siapa mereka itu? Jibril a.s menjawab: Mereka adalah orang-orang yang menggunjing orang lain dan membuka aib (kehormatan) dirinya”. (H.R. Abu Daud dengan sanad yang sangat shahih). Semoga Allah melindungi kita dari azab dan siksa-Nya.

Meskipun ghibah bukan merupakan kaba’ir (dosa besar) tetapi ternyata melakukannya menjadi factor penyebab menimpanya azab kubur kepada pelakunya. Sahabat Jabir berkisah: Ketika kami bersama dengan Rasulullah saw, kami melewati 2 buah makam, seraya Rasulullah saw bersabda: Mereka berdua sedang disiksa di kubur mereka, bukan karena dosa besar yang dilakukannya, tetapi yang satu karena menggunjing orang lain, sedangkan yang lain tidak bersuci dari kencingnya”.

Karenanya pula Rasulullah saw memberikan peringatan yang keras, sampai-sampai ia menyampaikannya dalam sebuah khutbah dengan suara yang menggelegar terdengar wanita-wanita di rumah mereka, “Wahai orang-orang yang percaya kepada lisannya, tapi tidak mempercayai hati nuraninya, jangan kalian menggunjing saudaramu sesama muslim, jangan pula membuka auratnya, karena siapa yang membuka aurat saudaranya niscaya Allah akan membuka aib dirinya, barang siapa yang Allah buka aib dirinya, Dia akan mencela dirinya walau di dalam rumahnya” (H.R. Ibnu Abid-Dunya, Abu Daud dari hadits Abu Burzah dengan sanad yang jayyid).

Ingatlah Akhi Fillah, bahwa saat Antum melakukan taqwim tarbawi, dan Antum menyentuh kekurangan-kekurangan akh yang Antum taqwim tersebut, jarak antara proses itu dengan ghibah sangatlah tipis. Karenanya, sebelum Antum melangkah kepada proses taqwim, hendaknya membersihkan hati Antum, ikhlaskan niat dan motivasi, tingkatkan dzikir dan amalan-amalan shalih Antum. Sebab kita harus merasa khawatir akan terjerumus kepada perbuatan ghibah, sebagaimana sering dikhawatirkan para Salafus-Shalih.

Ibnu Abbas menyerukan, “Siapa yang berkeinginan menyebut aib temannya, maka sebutkanlah terlebih dahulu menyebut aib dirinya”. Abu Hurairah pun berkata, “Sungguh mengherankan, ada orang dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak dapat melihat kotoran besar di matanya sendiri. Sebagaimana al-Hasan menegaskan, “Ikhwah fillah, Antum tidak akan memperoleh lezat dan esensi iman, sampai Antum mampu tidak membuka aib temanmu dengan sebuah aib yang ada pada diri Antum, sampai Antum juga mampu memperbaiki aib itu dimulai dari dirimu. Jika itu dapat Antum lakukan, niscaya Antum akan terbiasa menyibukkan diri dengan perbaikan diri Antum, dan hal itu yang disukai Allah”.

Ikhwani –hafizhakumullah fi tha’atih- 
(semoga Allah memelihara Antum dalam ketaatan kepada-Nya).
 Adalah bukti kasih saying Rasul qudwah kita, ketika memberikan arahan tentang bahaya lisan, bahwa kesempurnaan Islam seseorang dilihat dari kebersihan lisan dan tangannya dari bentuk-bentuk gangguan terhadap saudaranya:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده (رواه مسلم)
"Orang muslim adalah yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya" (H.R. Muslim).
Di antara bentuk gangguan lisan itu adalah “namimah” (‘mengadu domba’), seseorang berkata kepada kawannya, bahwa si Fulan telah mengatakan sesuatu tentang dirimu. Sehingga hal tersebut membuat kawannya marah dan tidak suka kepada si Fulan itu.

Namun bentuk namimah tidak sebatas provokasi, tetapi menyebarkan rahasia seseorang juga termasuk namimah, atau memberitahukan orang sesuatu yang tidak disukainya. Kondisi seperti ini hendaknya disikapi dengan sikap yang bijak, yakni tidak menambah penyebaran berita itu, tetapi sebaiknya ia mendiamkan, kecuali pemberitaan sesuatu yang ada manfaat dan maslahatnya bagi muslim atau untuk mencegah bahayanya.

Ikhwah fillah yang menyayangi dan disayangi Allah.
Ketahuilah, bahwa setiap yang dilarang dalam Islam, memberikan manfaat besar bagi muslim, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat. Ternyata bahaya namimah tidak hanya untuk pribadi pelakunya, tetapi dapat memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Karenanya Allah swt dan Rasul-Nya memberikan ancaman-ancaman berat bagi para pelaku namimah:
1.      وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ ﴿١١﴾
“Jangan kamu taati orang-orang yang mendustakan agama….(yaitu) yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah” (Q.S. Al-Qalam: 10 &11).
2.        وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
“Neraka wail bagi pengumpat atau penyebar fitnah dan pencela” (Q.S. Al-Humazah: 1).
3.        أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢﴾ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ﴿٣﴾ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾
“…akan masuk neraka…….pembawa kayu bakar” (Q.S. Al-Masad: 2-4), si pembawa kayu bakar itu dahulunya orang yang menyebarkan fitnah. Sebagaimana 2 wanita yang berkhianat kepada suaminya yang Nabi itu, mereka adalah wanita-wanita yang menyebarkan fitnah dan aib suaminya yang salih-salih itu (baca surat at-Tahrim).
4.      “Tidak akan masuk surga orang yang melakukan namimah” (H.R. Imam Bukhari Muslim).
5.      “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang berupaya melakukan ta’lif (menjadi golongan perekat), sedangkan yang paling dibenci Allah adalah orang-orang yang menyebar fitnah, yang memecah persatuan saudaranya, mencari-cari kesalahan orang shalih” (H.R. Imam Thabrani).
6.      “Maukah kalian aku beritahu orang yang paling buruk di antara kalian? Dia adalah orang yang berjalan berkeliling melakukan namimah, merusak persaudaraan orang-orang yang saling bercinta dan yang mencari kesalahan orang” (H.R. Ahmad).

Ikhwan fillah…
Setiap kita pasti tidak suka difitnah, sebagaimana kita juga tidak suka ayah atau ibu atau saudara kita mendapat fitnah; karena itulah orang lain juga tidak senang difitnah dan dibicarakan aib diri mereka.
Untuk itu setiap ada berita kita dengar atau lihat, hendaknya diklarifikasi di-tabayyun, jika tidak, maka akan berakibat fatal. Tadabburi pesan Allah swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ﴿٦﴾
Artinya : “Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq dengan membawa sebuah berita, hendaknya diklarifikasi (tabayyun), karena khawatir menimpa suatu kaum dengan cara yang ‘bodoh’ yang akan mengakibatkan kalian menyesal. (Q.S. Al-Hujurat: 6)
Yakinlah, bahwa bimbingan dan arahan Allah dan Rasul-Nya pasti memberikan pencerahan dan kesejahteraan hidup, pada kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan hidup bernegara serta kebaikan bagi peradaban manusia. Wallahu A’lam.


  أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sabtu, 18 Oktober 2014

Rumah Tangga Sebagai Cermin Kepribadian Kader


 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Usrah (keluarga) bukan saja sebagai sendi terpenting dalam bangunan tersebut, tetapi juga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara keseluruhan. Oleh sebab itu, agama Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan keluarga ini.
Perhatian istimewa terhadap pembentukan usrah tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:
Pertama, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. Ayat-ayat tentang pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah, pergaulan suami-istri , menyusui anak, dan sebagainya.
Kedua, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih calon mempelai yang shalihah. Rasulullah SAW bersabda:
 “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak”

Rasulullah SAW suami teladan

Rasulullah SAW sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia. Ketika beliau menginjak umur 25 tahun menikahi Khadijah binti Khuwalid. Sejak saat itulah beliau mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketenteraman dan ketenangan.
Rasulullah SAW amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda:
 “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina”. Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar menghormati dan berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mengharuskan untuk berbuat baik dalam mempergauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak. Kecuali, ditekankan kewajiban berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau menyiksanya.
Perbuatan baik ini tidak terbatas pada perlakuan sopan terhadap istri saja tapi mencakup ketabahan dan kesabaran ketika menghadapi kemarahan istri sebagian kasih sayang atas kelemahannya. Rasulullah SAW menyatakan:
“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, bila kamu luruskan (dengan keras) maka berarti mematahkannya”. (Al-Hadits)
Rasulullah SAW amat sayang terhadap istri-istrinya. Beliau amat marah bila mendengar seorang wanita dipukul suaminya. Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakuan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukul istrinya seperti memukul seorang budak, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”
Ketika Rasulullah SAW mengizinkan memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat dan ancaman secukupnya. Beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah SAW berpidato seraya berkata, :
“Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”
Rasulullah SAW merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan pentingnya bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepada istrinya. Kita banyak menjumpai hadits yang seirama dengan hadits berikut, :
“Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaqnya dan paling lembut pada keluarganya”. Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”.
Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tak berguna dikritik, memaafkan kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar Bila ada waktu senggang beliau ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kewajiban rumah tangganya,
Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya. Beliau menjawab:
“Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat dia pergi shalat.”
Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang dai, yaitu rumah tangga yang penuh kecintaan dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa, kelapangan dada, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.
Bila terpaksa harus bertindak tegas, beliau lakukan itu disertai dengan kelembutan dan kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita sedangkan kelembutan dan kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.

Khadijah sebagai istri teladan.
Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, akan tetapi beliau selalu menolak. Beliau pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota Mekkah.
Ketika beliau mendengar kejujuran Muhammad SAW, ia menyuruh pembantunya dan meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak laki-laki bernama Maisyarah. Nabi Muhammad menerima permohonan itu dengan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan pertama ini.
Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya, Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan ketika beliau menginjak 25 tahun sedang Khadijah berumur 40 tahun.
Khadijah sebagai ummul mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi SAW. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di gua Hira, Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang mendukung Rasulullah SAW dalam melaksanakan dakwahnya baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya. Perikehidupannya harum semerbak wangi, penuh kebajikan, dan jiwanya sarat dengan kehalusan.

Rasulullah SAW pernah menyatakan dukungan ini dengan sabdanya:
”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selainnya”. (H.R. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya)
Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah mendapatkan tugas kenabian. Beliau gunakan jiwa dan semua harta miliknya untuk mendukung Rasul dan kaum Muslimin. Pantaslah kalau beliau dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islamiyah.
Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu sulit, membantunya dalam menyampaikan risalah, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad, dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selama hidupnya sehingga ini pernah membuat Aisyah cemburu kepada Khadijah yang telah tiada. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa ini, pantas kalau Allah SWT menyampaikan salam lewat malaikat Jibril seperti yang pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:
 “Jibril datang kepada Nabi lalu berkata, wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (H.R Bukhari)
Itulah sekelumit tentang sosok Khadijah sebagai seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita sekarang dalam mendukung suami melaksanakan kewajiban dakwah dan menyampaikan risalah Islam .

Ciri-ciri rumah tangga kader dakwah
1.       Sendi bangunan keluarga kader adalah taqwallah. Taqwa merupakan sendi yang kuat untuk bangunan usrah Islamiyah. Memilih istri harus sesuai dengan taujih Rasulullah, yaitu mengutamakan sisi agama.

2.       Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan atas kesenangan materi saja tapi kebahagiaan hakiki harus muncul dari dalam jiwa berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Bila taqwa telah menjadi sendi utama, maka kekurangan material apapun akan menjadi ringan. Dengan taqwa akan memunculkan tsiqah antara keduanya sehingga akan melahirkan ketenteraman dan ketenangan. Dengan ketaqwaan, hubungan antara suami dan istri serta anak-anaknya akan menjadi indah karena semua akan sadar akan tanggung jawabnya dan hak-haknya.
  
3.   Rumah yang dibangun untuk keluarga kader seharusnya sederhana, mengutamakan dharuriyyat (prioritas), mengurangi hal-hal yang tersier, dan tidak ada israf.

4.       Dalam masalah pakaian dan makanan hendaknya menjauhi israf, mewah-mewahan, tapi justru harus menekankan masalah kesederhanaan, kebersihan, menghindari yang haram. Rumah tangga kader lebih mengutamakan memperbanyak sedekah untuk fakir dan miskin. Nasihat pada setiap kader dalam hal makanan harus selalu halal dan baik, menjauhi yang haram dan yang syubhat
  
5.          Sekitar anggaran rumah tangga haruslah menjadi contoh . Dalam hal ini kita harus:
a.         mencari rezki yang halal dan baik serta menjauhi yang haram. Sebab, semua daging yang lahir dari barang haram maka api neraka lebih berhak untuk membakarnya.
b.         Perlu ada kesepakatan antara suami dan istri dalam menentukan anggaran belanja rumah tangga, untuk apa saja penggunaan anggaran tersebut. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan
c.         Mencukupkan diri dengan hal-hal yang dharuriyyat dan menjauhi hal-hal yang sifatnya kamaliyat semampu mungkin.
d.         Memperhatikan hak Allah SWT seperti menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji kalau sudah mampu. Dalam rumah tangga diutamakan bila mampu menyediakan kotak khusus untuk sedekah. Wallahu a’lam.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته





Sombong Dan Senioritas Bukan Sifat Dai


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Puja puji hanya milik Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Pemimpin, teladan, imam para dai Nabi Muhammad saw.

Ikhwah fillah….
Doa dan harap kita kepada Allah swt, semoga kita selalu diberikan curahan rahmat dan inayah-Nya serta kesabaran dalam menapaki jalan dakwah yang begitu panjang dan penuh dengan berbagai rintangan dan hambatan, hanya ridha-Nya yang senantiasa kita harapkan selama kita juga ridha dengan kewajiban dakwah ini, tulus ikhlas dalam menjalankannya, senang terhadap tugas-tugas yang kita emban.

Ikhwah fillah, semoga Allah selalu menjaga kebersihan hati kita.
Bukankah Allah swt telah memilih kita sebagai pengemban amanah dakwah Islam dalam sebuah gerakan Islam yang menginternasional? Allah memberikan kepercayaan kepada kita untuk meneruskan risalah para nabi, khususnya misi dan ajaran Nabi Muhammad saw. Suatu penghargaan besar dari Allah swt yang telah mentakdirkan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang dapat berhimpun dalam gerakan dakwah ini; sebab jika kita hormati penghargaan Ilahi ini, kita respon positif amanat tersebut, insya Allah, hasil dan dampaknya tak akan sia-sia, kemuliaan dunia akhirat akan diberikan sesuai dengan janji Allah swt :
¼ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٣٣﴾
Sesungguhnya yang berikrar Robb kami adalah Allah, kemudian beristiqamah, niscaya para
 Malaikat turun (membawa berita), jangan kalian merasa takut dan sedih, bergembiralah dengan syurga yang dijanjikan. Kami adalah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat kelak, di sana bagi kalian apa yang diinginkan dan yang diminta. Yang diturunkan dari Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang berdakwah ke jalan Allah dan beramal shalih serta berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (Q.S. Fushilat:30-33)

Ikhwah fillah, semoga Allah senantiasa memberkahi persaudaraan kita.
Penghargaan Allah terhadap kita tersebut bukan untuk dibanggakan, lalu merasa tinggi hati, apalagi ujub –na’udzubillah min dzalik- terhadap diri dan menyombongkan diri dengan meremehkan orang lain. semua itu perbuatan terlarang, bahkan tidak pantas rasanya seorang yang diberikan kemuliaan sebagai da’i melakukan sikap dan perbuatan itu.
Lebih dari pada itu –ikhwani- sikap dan perilaku sombong, serta merasa tinggi hati mengakibatkan kerusakan struktur hubungan antara sesama. Bayangkan! Jika manusia saling merendahkan dan meremehkan yang satu dengan yang  lainnya. Tidak saling hormat, tidak ada kewibawaan, tidak ada trust (saling tsiqah), tidak ada etika, tidak menghormati tata susila, apa jadinya kehidupan ini jika itu yang terjadi?.
Apa gerangan yang membuat seseorang menjadi sombong, merasa tinggi, merasa lebih hebat dari orang lain???
Ilmu yang dimilikinya? Tidak ada yang harus dibanggakan dari ilmu yang kita miliki. Ilmu itu pada hakikatnya milik Allah, Dia mengajarkan kepada kita sedikit dari ilmu-Nya, maka justru ilmu itulah yang seharusnya memberikan rasa takut kepada Allah :
( إنما يخشى اللهَ من عباده العلماءُ ) 

Artinya : Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ulama.

Atau seseorang bangga dan merasa tinggi hati karena amal-amal dan aktivitas ibadahnya yang begitu banyaknya??? Bukankah seharusnya semakin tinggi keimanan seseorang dan ketaqwaannya, semakin ia merendahkan hatinya, baik ke hadirat Allah swt, maupun kepada manusia (Adzillatin ‘alal Mu’minin a’izzatin ‘alal kafirin), rendah hati di hadapan orang beriman dan tegas di hadapan orang kafir. Nabi Muhammad saw saja sebagai khoiru khalqillah (sebaik-baik makhluk Allah) dan orang yang paling taqwa dari umatnya,  masih dipesankan Allah swt dalam firman-Nya:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ  
Artinya : Rendahkanlah hatimu kepada pengikutmu orang-orang mukminin (QS asy-Syu’ara: 215).
Bahkan merasa lebih banyak amalnya, lebih tinggi kedudukannya di dalam gerakan dakwah karena merasa lebih dulu aktif dan lebih senior, akan membuat dirinya lebih hina dan lebih buruk dalam pandangan Allah swt. Simaklah pesan-pesan teladan kita Nabi Muhammad saw:
إذا سمعتم الرجل يقول هلك الناس هو أهلكهم (رواه مسلم)
Artinya : Jika kamu mendengar seseorang berkata “semua orang rusak”, maka dialah orang yang paling rusak (HR Muslim)
كفى بالمرء شرا أن يحقر أخاه المسلم (رواه مسلم)
Artinya : Cukuplah keburukan seseorang, karena ia menghina saudaranya sesama muslim (HR Muslim).
Atau ada seseorang yang sombong hanya lantaran keturunan dan keluarga besarnya? La haula wala quwwata illa Billah, renungkan kisah Nabi Muhammad tentang 2 orang yang bertikai lantaran saling berbangga dengan kehormatan keluarga besar dan keturunannya. 
Yang satu berkata kepada kawannya, 
” Tahukah kamu siapa aku, aku ini adalah anak keturunan si Fulan, sedangkan kamu seorang anak yang tak punya ibu!” Lalu Nabi mengingatkan seraya bersabda; 
” Ada 2 orang yang saling berbangga dengan keturunannya di hadapan Nabi Musa a.s. Salah seorang mereka berkata;
 “ Aku adalah anak keturunan si Fulan bin Fulan ”, ia sebutkan sampai 9 keturunan. Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, 
“ Katakanlah wahai Musa kepada orang yang berbangga tersebut, 9 keturunanmu itu adalah ahli neraka dan engkau yang kesepuluhnya (Riwayat Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid al-Musnad dengan sanad yang sahih, dan Imam meriwayatkannya mauquf pada Muadz dengan kisah Musa saja).
Nabi Muhammad saw juga mengingatkan dalam sebuah hadits, 
“Seorang yang berbangga dengan keturunannya, sungguh ia menjadi arang api neraka, atau lebih rendah dari hewan yang bermain-main di kotoran sampah” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, beliau meng-hasan-kan hadits ini).

Ikhwah fillah,  semoga Allah senantiasa menjaga dalam ketaatan kepada Allah.
Salah satu fikrah dakwah kita adalah “Salafiyah” yang menuntut kita untuk meneladani pendahulu kita yang shalih dalam sifat rendah hati mereka. Tidak ada yang merasa lebih hebat betapapun tinggi ilmu yang mereka miliki. Mereka tidak merasa lebih senior betapapun mereka lebih dahulu berbuat dan aktivitas jihad mereka lebih banyak.
Kepemimpinan Nabi Muhammad saw memberikan keteladanan kepada umatnya dalam sikap tawadhu’, sebagaimana berita yang diriwayatkan Anas bin Malik, ia berkata, 
“Meskipun (kita tahu) bahwa para sahabat adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah, namun mereka tidak pernah berdiri menyambut kedatangan Rasulullah saw, karena mereka tahu bahwa hal itu tidak disenangi Nabi saw” (HR Tirmidzi, hadits hasan).
Aduhai… siapa yang tidak mengenal Abdur-Rahman bin Auf yang sangat disegani di kalangan kaumnya. Namun kepiawaian dan kesenioran beliau tidak membuat dirinya tinggi hati sampai kepada pelayannya sekalipun, hal itu dikisahkan oleh sahabat Abu Darda’,
 “…..Abdur-Rahman bin Auf sulit dibedakan dengan pelayannya, karena tidak nampak perbedaan mereka dalam bentuk lahiriyahnya”. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi, kira-kira peribahasa itulah yang digunakan.
Demikian pula kehebatan Imam Hasan Basri dalam ilmu agama tidak memperdayakan dirinya menjadi seorang yang ‘sok’ atau merasa lebih hebat di hadapan teman-temannya. Suatu saat Hasan Basri berjalan dengan beberapa orang, orang-orang itu berjalan pada posisi di belakang Hasan Basri, maka Hasan Bashripun mencegah mereka (melakukan itu), seraya berkata, 
“Tidak benar hal ini dilakukan setiap hamba Allah?”.
Sosok tabiin seperti Abu Sofyan ats-Tsauri ternyata juga benar-benar teruji sifat tawadhunya. Saat beliau berkunjung ke Ramallah (di Palestina), Ibrahim bin Ad-ham mengutus seseorang kepada Sofyan untuk meminta agar ia datang bersinggah ke rumahnya, seraya berkata,
 “Wahai Sofyan kemarilah untuk berbincang-bincang”. 
Sofyan pun mendatangi Adham. Ketika Adham ditegur seseorang 
“Mengapa kamu berbuat demikian”. 
Adham menjawab 
“Saya ingin menguji ke-tawadhu’-annya”.
Demikian pula jabatan dan kedudukan tidak layak dijadikan alasan untuk berbangga diri apalagi mengusungkan dada “akulah orang besar”. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Umar bin Abdul Aziz ra kedatangan seorang tamu saat ia sedang menulis, saat lampu padam karena terjatuh, sang tamupun berkata: Biarkan aku ambil lampu itu untuk aku perbaiki! Umar Sang Khalifah berkata: Tidak mulia seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayan. Tamu itu berkata lagi, “Atau saya minta bantuan anak-anak”. Umar Amirul Mukminin berkata: Mereka baru saja tidur (jangan ganggu mereka)”. Kemudian Sang Khalifah pun beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil lampu itu dan memperbaikinya sendiri. Tamu itu terheran-heran seraya berseru, “Wahai Amiril Mukminin, engkau melakukannya itu sendiri? Amiril Mukminin berkata, “Saat saya pergi saya adalah Umar, saat saya kembali pun  saya adalah Umar, tidak kurang sedikit pun dari saya sebagai Umar. Sebaik-baik manusia adalah yang tawadhu di sisi Allah swt”. Subhanallah……

Ikhwah fillah, ...
Orang-orang yang berhimpun dalam mahabbah dan keridhaan Allah sejatinya mengenyahkan sifat sombong, ‘sok’, senioritas apalagi figuritas. Hiasilah diri Antum dengan tawadhu’, rendah hati, selalu merasa memerlukan tambahan ilmu, pengalaman dan merasa saling butuh dengan  sesama ikhwah lainnya.
Akhirnya, ikhwah fillah terimalah taujih Rabbani ini :
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا ﴿٣٧﴾ كُلُّ ذَ‌ٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِندَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا ﴿٣٨﴾
Artinya : "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu (Q.S. ِِAl-Isra: 37-38).
Wallahu A’lam
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته